Category Archives: SEJARAH YUNANI

YUNANI SEBAGAI PRADABAN YANG LEBIH MAJU

Standar
  1. 1. SEJARAH YUNANI KUNO

Yunani Kuno adalah periode dalam sejarah Yunani yang dimulai dari periode Yunani purba pada abad ke-8 sampai ke-6 SM, hingga penaklukan Romawi atas Korintia pada tahun 146 SM. Peradaban ini mencapai puncaknya pada periode Yunani klasik, yang mulai bersemi pada abad ke-5 sampai ke-4 SM. Pada periode klasik ini Yunani dipimpin oleh negara-kota Athena dan berhasil menghalau serangan Kekaisaran Persia. Masa keemasan Athena berakhir dengan takluknya Athena kepada Sparta dalam perang Peloponesia pada tahun 404 SM.

Oleh sebagian besar sejarawan, peradaban ini dianggap merupakan peletak dasar bagi Peradaban Barat. Budaya Yunani merupakan pengaruh kuat bagi Kekaisaran Romawi, yang selanjutnya meneruskan versinya ke bagian lain Eropa.

Istilah “Yunani Kuno” diterapkan pada wilayah yang menggunakan bahasa Yunani pada zaman kuno. Wilayahnya tidak hanya terbatas pada semenanjung Yunani modern, tapi juga termasuk wilayah lain yang didiami orang-orang Yunani: Siprus dan Kepulauan Aegea, pantai Aegea dari Anatolia (saat itu disebut Ionia), Sisilia dan bagian selatan Italia (dikenal dengan Magna Graecia), serta pemukiman Yunani lain yang tersebar sepanjang pantai Colchis, Illyria, Thrace, Mesir, Cyrenaica, selatan Gaul, timur dan timur laut Semenanjung Iberia, Iberia, dan Taurica.

Peradaban Yunani Kuno sangat berpengaruh pada bahasa, politik, sistem pendidikan, filsafat, ilmu, dan seni, mendorong Renaisans di Eropa Barat, dan bangkit kembali pada masa kebangkitan Neo-Klasik pada abad ke-18 dan ke-19 di Eropa dan Amerika.

  1. a. Periode purba

Periode purba (periode arkaik) dimpulai pada abad ke-8 SM, ketika Yunani mulai bangkit dari era kegelapan yang ditandai dengan keruntuhan peradaban Mycena. Peradaban baca-tulis telah musnah dan huruf Mycena telah terlupakan, akan tetapi bangsa Yunani mengadopsi alfabet Funisia, memodifikasinya dan menciptakan alfabet Yunani. Pada abad ke-9 SM catatan tertulis mulai muncul.[1] Yunani saat itu terdiri atas komunitas mandiri yang merdeka, terbentuk sesuai pola geografis Yunani, dimana setiap pulau, lembah, dan dataran terpisah satu sama lain oleh laut atau pengunungan.[2]

Pada abad ke-6 SM beberapa negara-kota telah tumbuh menjadi kekuatan dominan Yunani: Athena, Sparta, Korinthia, dan Thebes. Masing-masing menaklukkan wilayah pedesaan dan kota kecil sekitarnya, Athena dan Korinthia adalah kekuatan maritim dan perdagangan terkemuka.

Pertumbuhan penduduk yang pesat pada abad ke-8 dan ke-7 SM telah mengakibatkan perpindahan penduduk Yunani ke koloni-koloninya di Magna Graecia (Italia selatan dan Sisilia), Asia Minor dan wilayah lainnya. Emigrasi ini berakhir pada abad ke-6 yang pada saat itu dunia Yunani, secara budaya dan bahasa, mencakup kawasan yang jauh lebih luas dari negara Yunani sekarang. Koloni Yunani ini tidak diperintah oleh kota pembangunnya, meskipun mereka tetap menjalin hubungan keagamaan dan budaya. Periode ini ditandai dengan berkembangnya perdagangan dan meningkatnya standar hidup di Yunani dan koloninya.

Pada paruh kedua abad ke-6 SM, Athena jatuh dalam cengkeraman tirani Peisistratos dan putranya; Hippias dan Hipparchos. Akan tetapi pada tahun 510 SM ketika pelantikan aristokrasi Athena Cleisthenes, raja Sparta Cleomenes I membantu rakyat Athena menggulingkan sang tiran. Setelah itu Sparta dan Athens berulang kali saling serang, pada suatu saat Cleomenes I mengangkat Isagoras yang pro-Spartan menjadi pemimpin Athena. Untuk mencegah thena menjadi negara boneka Sparta, Cleisthenes membujuk warga Athena untuk melakukan suatu revolusi politik: bahwa semua warga athena memiliki hak dan kewajiban politik yang sama tanpa memandang status: dengan demikian Athena menjadi “demokrasi“. Gagasan ini disambut oleh warga Athena dengan bersemangat sehingga setelah berhasil menggulingkan Isagoras dan menerapkan reformasi Cleisthenes, Athena dengan mudah berhasil menangkal tiga kali serangan Sparta yang berusaha mengembalikan kekuasaan Isagoras.[3] Bangkitnya demokrasi memulihkan kekuatan Athena dan memicu dimulainya ‘masa keemasan’ Athena.

  1. b. Yunani klasik

Koin Athena awal, menggambarkan kepala dewi Athena dan burung hantu Athena di sebaliknya – abad ke-5 SM.

  1. c. Abad ke-5 SM

Athena dan Sparta kemudian bersekutu untuk menghadapi ancaman asing yang jauh lebih kuat dan berbahaya, Kekaisaran Persia. Setelah menindas pemberontakan Ionia, Kaisar Darius I dari Persia, Maharaja Kekaisaran Akhemeniyah memutuskan untuk menaklukan Yunani. Serangan persia pada tahun 490 SM diakhiri dengan kemenangan Athena pada perang Marathon dibawah kepemimpina Miltiades muda.

Xerxes I, putra dan pewaris Darius I, mencoba kembali menaklukan Yunani 10 tahun kemudian. Akan tetapi pasukan Persia yang berjumlah besar menderita banyak korban dalam perang Thermopilae, persekutuan Yunani menang atas perang Salamis dan Platea. Perang Yunani-Persia berlangsung hingga 449 SM, dipimpin oleh Athena serta Liga Deli, pada saat ini Macedonia, Thrasia, dan kepulauan Aegea serta Ionia semua terbebas dari pengaruh Persia.

Posisi dominan kemaharajaan maritim Athena mengancam posisi Sparta dengan Liga Peloponesia-nya di daratan Yunani. Konflik tak terhindarkan yang berujung pada Perang Peloponesia (431-404 SM). Meskipun berulang kali berhasil menghambat perang, Athena berulang kali terpukul mundur. Wabah penyakit yang menimpa Athena pada 430 SM disusul kegagalan ekspedisi militer ke Sisilia sangat melemahkan Athena. Diduga sepertiga warga Athena tewas, termasuk Perikles,pemimpin mereka.[4]

Sparta berhasil memancing pemberontakan para sekutu Athena, akhirnya melumpuhkan kekuatan militer Athena. Peristiwa penting terjadi pada 405 SM ketika Sparta berhasil memotong jalur suplai pangan Athena dari Hellespont. Terpaksa menyerang, armada angkatan laut Athena yang pincang dihancurkan oleh Spartan dibawah pimpinan Lysander pada perang Aegospotami. Pada 404 SM Athena mengajukan permohonan perdamaian, dan Sparta menentukan persyaratannya; Athena harus membongkar tembok kotanya, serta melepaskan seluruh koloninya di seberang laut.

  1. d. Abad ke-4 SM

Yunani memasuki abad ke-4 SM dibawah hegemoni Sparta, akan tetapi jelas dari awal bahwa Sparta memiliki kelemahan. Krisis demografi menyebabkan Sparta kekuasaan Sparta terlalu meluas sedangkan kemampuan terbatas untuk mengelolanya. Pada 395 SM Athena, Argos, Thebes, dan Korinthia mampu menantang Sparta yang berujung pada perang Korinthia (395-387 SM).Perang ini berakhir dengan status quo, dengan diselingi intervensi Persia atas nama Sparta.

Hegemoni Sparta berlangsung 16 tahun kemudian, hingga Sparta berusaha memaksakan kehendanya kepada warga Thebes, Sparta kalah telak dalam perang Leuctra pada tahun 371 SM. Jenderal Thebes Epaminondas memimpin pasukan Thebes memasuki semenanjung Peloponesus, sehingga banyak negara-kota memutuskan hubungannya dengan Sparta. Pasukan Thebes berhasil memasuki Messenia dan membebaskan rakyatnya.

Kehilangan tanah dan penduduk jajahan, Sparta jatuh menjadi kekuatan kelas dua. Hegemoni Thebes kemudian berdiri meski berusia singkat. Pada perang Mantinea (362 SM), Thebes kehilangan pemimpin pentingnya, meski menang dalam perang. Kemudian negara-kota Mantinea berhasil mendominasi Yunani.

Melemahnya berbagai negara-kota di jantung Yunani bersamaan dengan bangkitnya Macedonia, yang dipimpin Philip II. Dalam dua puluh tahun, Philip berhasil mempersatukan kerajaan, memperluasnya ke utara dengan memojokkan suku Illyria, kemudian menaklukkan and Thessaly dan Thrace. Kesuksesannya berkat inovasinya mereformasi tentara Macedonia. Berulang kali Philip campur tangan dalam urusan politik negara-kota di selatan, yang berujung pada invasi tahun 338 SM.

Setelah mengalahkan gabungan tentara Athena dan Thebes dalam perang Chaeronea (338 BC), ia menjadi hegemon de facto seluruh Yunani. Ia memaksa mayoritas negara-kota Yunani untuk bergabung kedalam Liga Korinthia yang bersekutu dengannya, serta mencegah mereka saling serang. Philip memulai serangan terhadap kekaisaran Akhemaeniyah Persia, akan tetapi ia dibunuh oleh Pausanias dari Orestis.

Aleksander Agung, putra dan pewaris Philip, melanjutkan perang. Aleksander mengalahkan Darius III dari Persia dan menghancurkan Kekaisaran Akhemeniyah sepenuhnya, dan ia memperoleh gelar ‘Agung’. Kerika Aleksander wafat pada 323 SM, kekuasaan dan pengaruh Yunani berada pada puncaknya. Akan tetapi terjadi perubahan politik, sosial dan budaya yang mendasar; semakin menjauh dari kemerdekaan polis (negara-kota) dan lebih membentuk kebudayaan Hellenistik.

  1. e. Yunani Hellenistik

Periode Hellenistik bermula pada 323 SM, ditandai dengan berakhirnya penaklukan Aleksander Agung, dan diakhiri dengan penaklukan Yunani oleh Republik Romawi pada 146 SM. Meskipun demikian berdirinya kekuasaan Romawi tidak memutuskan kesinambungan sistem sosial kemasyarakatan dan budaya Yunani, yang tetap tidak berubah hingga bangkitnya agama Kristen, yang menandai runtuhnya kemerdekaan politik Yunani.

  1. 2. PERADABAN MINOA

Peradaban Minoa berlangsung di Pulau Kreta dari 3000 sampai 1100 SM. Seiktar tahun 1450 SM, peradaban ini digantikan oleh peradaban Mikenai sebagai kebudayaan utama di daerah ini. Nama “Minoa” dicetuskan oleh arkeologi terkenal asal Britania, Sir Arthur Evans, yang dari tahun 1900 sampai 1906 melakukan penggalian di Knossos, yang dia percayai sebagai ibukota kerajaan yang pernah dipimpin oleh raja Minos dari mitologi Yunani.

Arkeolog Yunani, Nikolaos Platon, mengusulkan sebuah kronologi mengenai peradaban Minoa beradasarkan penggalian istana-istana Minoa. Dia membagi peradaban itu ke dalam beberapa era:

  1. a. Periode pra-istana (3000-1900 SM)

Bukti arkeologis menunjukkan bahwa Kreta mungkin telah dihuni sejak milenium ketujuh SM. Para pendatang baru yang ahli dalam metalurgi tiba di sana pada akhir milenium keempat SM, dan menggantikan orang-orang sebelumnya.

  1. b. Periode istana purba (1900-1700 SM)

Istana-istana yang besar (terutama di Knossos dan Faistos) dibangun pada periode istana purba. Pada masa ini, kehidupan perkotaan mulai tumbuh dan politik mulai menjadi terpusat. Sekitar tahun 1700 SM, banyak istana besar yang hancur, kemungkinan karena bencana alam, seperti gempa bumi, atau mungkin karena serangan dari Anatolia.

  1. c. Periode istana baru (1700-1450 SM)

Orang-orang Minoa membangun kembali istana-istana mereka, dan dimulailah Periode Neopalatial. Puncak peradaban Minoa terjadi pada periode ini, populasi meningkat, banyak pemukiman baru yang dibuat, dan seni, arsitektur, serta teknologi berkembang pesat. Meskipun mengalami kemajuan, bangsa Minoa juga mengalami semacam bencana sekitar tahun 1450 SM.

  1. d. Periode istana akhir (1450-1380 SM)

Pada periode ini, peradaban Minoa mengalami kemunduran. Banyak pendapat mengenai penyebabnya, di antaranya adalah karena letusan Gunung Thera di pulau Santorini, adanya pemberontakan, atau mungkin invasi bangsa Mikenai dari daratan utama Yunani. Kemungkinan besar, gabungan dari semua faktor tersebutlah penyebabnya. Appaun penyebab pastinya, peradaban Minoa kemudian digantikan oleh peradaban Mikenai pada 1420 SM. Penggalian menunjukkan tembikar dan tulisan dari Kreta setelah 1450 SM lebih menunjukkan daratan utama Yunani daripada Kreta pra-1450 SM. Knossos lalu menjadi pusat administratif Mikenai, sebelum akhirnya hancur oleh kebakaran pada 1380.

  1. e. Periode pasca-istana (1380-1100 SM)

Setelah kehancuran Knossos, ekonomi dan politik berpindah ke kota Khaniá. Peradaban Minoa sendiri semakin runtuh dan lokasi-lokasi Minoa mulai ditinggalkan. Khondros adalah salah satu lokasi baru pada periode ini. Lokasi Minoa yang terakhir runtuh adalah kota Karfi yang berada di pegunungan, yang berhasil menolak asimilasi budaya Mikenai hingga awal Zaman Besi. Pengetahuan tentang alat-alat dari besi (yang dibawa oleh bangsa Mikenai), yang menggantikan penggunaan perunggu, merupakan salah satu indikator yang digunakan oleh para arkeolog untuk menentukan waktu kapan Minoa runtuh.

  1. f. Budaya

Kebudayaan Minoa berbeda dari orang-orang Yunani kuno setelahnya. Bangsa Minoa merupakan pelopor dalam bidang eksplorasi kelautan, dan mereka mendirikan beberapa koloni di daratan utama Yunani dan pulau-pulau Aigea lainnya, misalnya Akrotiri di Thera. Budaya Minoa juga ikut mempengaruhi budaya Mikenai.

  1. g. Agama

Sebagian besar infomasi mengenai agama Minoa diketahui dari tradisi lisan yang baru ditulis setelah Mikenai menaklukan Minoa. Dari catatan ini, para sejarawan percaya bahwa agama Minoa didasarkan pada agama orang-orang Neolitikum yang digantikan oleh bangsa Minoa. Agama mereka berpusat pada dewi Potnia, namun mereka tetap memuja banyak dewi. Banteng adalah keramat untuk bangsa Minoa. Ada suatu ritual keagamaan yang unik, yaitu lompat banteng. Di Kuil Minoa di Knossos, ada labirin yang terkenal. Simbol keagamaan lainnya adalah ular, labris (kapak bermata dua), matahari, dan pohon. Ada pula bukti bahwa bangsa Minoa melakukan pengorbanan manusia.

  1. h. Seni

Bangsa Minoa terkenal atas kemampuan seni mereka. Penggalian telah menunjukkan adanya lukisan dinding, patung, dan tembikar. Tembikar adalah bentuk seni yang dominan pada bangsa Minoa sejak kedatangan Mereka di Kreta hingga periode Istana Baru, ketika akhirnya ditemukan teknologi tembikar untuk standardisasi desain. Lukisan dinding kemudian bangkit sebagai seni utama, dan sangat berfokus pada tema-tema natural dan keagamaan. Banteng dan ular banyak muncul dalam karya seni orang Minoa. Namun, tidak ditemukan adanya lukisan dinding mengenai dewa.

  1. i. Arsitektur

Bangsa Minoa juga merupakan pionir untuk berbagai metode arsitektur. Kota-kota mereka diaspal dengan batu, dan dilengkapi selokan serta saluran air. Pembangunan istana-istana pertama menandai berakhirnya periode pra-istana. Istana adalah pusat pemerintahan. Di istana, lusinan komunitas dapat berkumpul di bawah satu otoritas politik yang terpusat. Istana juga digunakan sebagai tempat penyimpanan hasil panen yang berlebih, dan tempat altar para dewi.

  1. j. Ekonomi

Ekonomi Minoa sangat bervariasi. Beberapa bahan pangan didapat dari pertanian, contohnya gandum, anggur, zaitun, dan ara. Mereka juga berternak domba, kambing, dan babi. Selain itu, lebah juga diternakkan untuk menghasilkan madu, selain juga keledai dan lembu untuk membajak ladang. Bangsa Minoa juga melakukan perdangan dengan daerah-daerah di sekitarnya. Komoditas utama mereka adalah timah, yang sangat diperlukan karena perunggu dihasilkan dari campuran timah dan tembaga. Wilayah perdagangan Minoa mencapai Mespotamia, Mesir, dan Spayol. Seiring munculnya besi yang menggantikan perunggu, perdagangan Minoa pun runtuh.

  1. k. Bahasa

Peradaban Minoa memiliki beberapa bahasa tertulis. Pada masa pra-Istana, aksara hieroglif primitif digunakan, naman hanya sampai 1700 SM. Setelah itu berkembanglah sistem tulisan Linear A pada periode Istana purba, dan terus digunakan pada masa Istana baru. Linear A memiliki banyak simbol, masing-masing melambangkan suku kata, kata, atau angka. Setelah penaklukan Mikenai, linear A digantikan oleh Linear B. Hingga kini Linear A belum dapat diterjemahkan.

  1. 3. PERADABAN MIKENAI

Peradaban Mikenai berlangsung di daratan utama Yunani pada 1600-1100 SM. Nama “Mikenai” diambil dari nama kota kuno Mikenai, yang berhasil ditemukan oleh Heinrich Schliemann, yang memulai penggalian pada 1876. Schliemann juga terkenal atas penggaliannya yang berhasil menemukan kota Troya di Asia Minor, yang sebelumnya hanya dianggap sebagai khayalan. Tulisan yang dibuat pada periode Yunani Klasik, yakni Iliad dan Odysseya, berlatar pada periode Mikenai ini.

Peradaban Mikenai dimulai dengan kedatangan beberapa suku ke daratan utama Yunani sekitar 2000 SM. Suku-suku ini berastu sebagai satu unit politik sekitar 1600 SM.

Bangsa Mikenai disebut-sebut sebagai penyebab runtuhnya peradaban Minoa di pulau Kreta. Bangsa Minoa memiliki kekuatan maritim yang sepertinya lebih kuat dari Mikenai. Namun sekitar tahun 1600 SM, dipercaya bahwa letusan Gunung Thera di pulau Santorini di dekat Kreta menyebabkan banyak kehancuran pada bangsa Minoa. Akibatnya bangsa Minoa melemah dan diduga pasa saat inilah bangsa Mikenai menyerang dan menaklukan bangsa Minoa sekitar tahun 1400 SM. Bangsa Mikenai pun menggantikan bangsa Minoa menjadi penguasa di daerah tersebut

Pada abad ketujuh atau delapan SM, penyair bernama Homeros menulis Iliad dan Odysseya yang berlatar pada peradaban Mikenai. Namun Homeros menulisnya jauh setelah peradaban Mikenai hilang dari bumi Yunani. Karena ada jurang pemisah yang cukup lama itu, karya-karya Homeros kurang bisa dilihat sebagai referensi mengenai peradaban Mikenai. Tulisan Homeros lebih mencerminkan kebudayaan pada masanya. Namun sudah terungkap bahwa banyak lokasi yang disebutkan oleh Homeros benar-benar merupakan lokasi pada peradaban Mikenai, misalnya Troya. Sementara tokoh-tokohnya, seperti Akhilles, Hektor, Priamos, Diomedes, dan Agamemnon, belum diketahui apakah pernah benar-benar ada atau tidak.

Sekitar tahun 1100 SM, suku-suku dari utara yang dikenal sebagai bangsa Doria menginvasi Peloponnesos dan menghancurkan peradaban Mikenai. Yunani pun mengalami Zaman Kegelapan, yang berlangsung selama beberapa abad sebelum bisa kembali pulih. Sistem tulisan, yang pernah dikenal pada peradaban Mikenai, hilang dan dilupakan, sehingga orang Yunani harus menciptakan sistem tulisan yang baru pada abad-abad berikutnya.

Seni Mikenai, seperti juga berbagai aspek peradaban mereka, dipengaruhi oleh bangsa Minoa. Seni Mikenai didominasi oleh tembikar, patung, dan lukisan. Bangsa Mikenai memilikki kemampuan yang tinggi dalam hal pembuatan barang-barang dari perunggu, misalnya pedang, perisai, dan baju pelindung.

Dibandingkan Minoa, bangsa Mikenai lebih banyak membangun benteng untuk pertahanan. Dinding benteng mereka biasanya setinggi empat puluh atau lima puluh kaki, dan disusun dari batu-batu besar dengan berat berton-ton, yang disatukan tanpa perekat. Benteng di Tirins dan Mikenai merupakan contoh terbaik dari benteng mereka. Tidak seperti Minoa, bangsa Mikenai tidak membangung banyak altar pemujaan. Bangunan keagamaan mungkin merupakan bagian dari istana benteng, namun tidak secara spesifik disebut seperti itu.

Bangsa Mikenai mempergunakan aksara yang kita sebut Linear B. Aksara ini berhasil dipecahkan pada 1951, dan terbukti merupakan bentuk awal dari bahasa Yunani modern. Dalam Linear B, masing-masing karakter melambangkan suku kata, dan bukan huruf tunggal. Pada Zaman Kegelapan Yunani, sistem tulisan ini menghilang.

  1. 4. I NVASI DORIA

Seperti telah diberitahu sebelumnya bahwa Invasi Doria membawa tiga kelompok suku bangsa ke Yunani pada akhir Zaman Perunggu. Mereka menghancurkan peradaban Mikenai, lalu berdiam di berbagai daerah di Yunani, selain juga di kepulauan Aigea, sebelum kemudian bermigrasi lebih jauh lagi menuju bagian timur dan barat Mediterania.

Bangsa Doria menempati daerah Isthmos di Korintus, Argolis, Lakonia, Messenia, barat daya Epiros, dan pulau-pulau semacam Kreta, dan Sporades bagian selatan, termasuk Kos dan Rhodes. Di Asia Minor, mereka hanya menempati daerah yang kecil di pesisir barat daya, dikelilingi oleh bangsa Likia. Sirakos (didirikan pada 734 SM) merupakan kota utama Doria di barat; kota ini terletak di pesisir timur Sisilia

Di daratan utama, bangsa Aitolia bercampur dengan orang-orang yang menuturkan dialek Yunan barat laut di Boiotia dan Thessali. Sebagian besar orang-orang yang berbicara dialek Aitolia murni menempati daerah-daerah semacam pulau Lesbos, dan pesisir barat barat laut Asia Minor, termasuk Troya, dikelilingi oleh bangsa Frigia dan Misia.

Sementara bangsa Ionia sebagian besar menghuni daerah Attika di daratan utama, selain juga di semenanjung Khalkide di Trakia dan pesisir Trakia. Mereka menempati pulau Euboia, sebagian besar kepulauan Kiklad, dan di Sporades (dari Khios sampai Leros).

Menurut mitologi Yunani, seorang penguasa Thesssali, bernama Hellen, merupakan asal-usul dari Hellenes atau Yunani Hellenik. Tiga suku bangsa Hellenik (Aiolia, Doria, dan Ionia) merupakan keturunan Hellen. Putra Hellen, Aiolos dan Doros, merupakan asal-usul dari nama bangsa Aiolia dan Doria. Sementara Ion merupakan putra dari Apollo dan seorang putri Athena yang bernama Kriosa, yang menikah dengan Xothos. Xothos merupakan putra lainnya dari Hellen. Ion merupakan asal-usul untuk nama kaum Ionia. Dalam mitologi Yunani, invasi Doria ke Yunani juga bertepatan dengan kembalinya para Heraklid. Heraklid adalah keturunan Herakles. Para Heraklid bermukim di Argolis, Elis, Lakonia dan Messenia.

Sudah disebutkan bahwa Invasi Doria membawa tiga kaum berbeda beserta bahasa (atau dialek) mereka. Tetapi, ada pula dua dialek lainnya.

Pertama, ada dialek Arkadia-Siprus, dituturkan di daerah pegunungan di Peloponessos, yang disebut daerah Arkadia, dan di pulau Siprus. Orang Yunani Hellenik, seperti misalnya orang Doria dan Aiolia, tidak pernah menyerang Arkadia, sehingga orang-orang Arkadia bisa tetap memlihara bahasa yang diwariskan dari dialek orang-orang Mikenai, meskipun mereka mempergunakan sistem tulisan yang berbeda. Namun mereka gagal memelihara naskah Mikenai, yang disebut Linear B. Linear B tidak lagi digunakan pada abad ke-12 SM ketika istana-istana Mikenai dihancurkan. Akibatnya peninggalan dari Mikenai hanya sebagian yang tersisa.

Dialek barat laut yang dituturkan di Thessali dan Boiotia bercampur dengan dialek Aiolia. Orang Yunani barat daya juga dapat ditemukan di Akhaia dan Elis di Peloponessos, Aitolia, Fokis dan Lokris. Mereka juga menempati pulau-pulau Ionia, misalnya Kefallenia, Ithaka, dan Zakhintos.

Sejak orang Yunani Hellenik bermukim di berbagai daerah, baik di Yunani maupun di sekitarnya, beberapa dialek yang baru pun muncul dan berkembang, contohnya adalah dialek Athena dan Attika yang berasal dari dialek Ionia.

Sejarah Yunani pada masa kuno hanya berkisar sejak periode migrasi orang-orang Hellenik dan sebelum kejatuhan Romawi. Tidak ada literatur atau sejarah tertulis sebelum orang Yunani menemukan alfabet Yunani, yang terjadi tidak lama setelah tibanya orang-orang Hellenik.

Jadi, antara kehancuran Mikenai dan penciptaan alfabet Yunani, orang-orang Yunani tidak mengenal tulisan. Akibatnya masa ini disebut Zaman Kegelapan Yunani.

Tidak lama setelah penciptaan alfabet Yunani, penyair Homeros menyusun puisi epik berjudul Iliad pada abad ke-8 SM. Itu adalah literatur Yunani tertua yang diketahui, dan juga menjadi inspirasi bagi para penyair lainnya untuk menulis puisi seperti itu. Homeros juga menulis Odisseya, yang berfokus pada sang pahlawan, Odisseus, pasca Perang Troya. Tulisan ikut membantu menjaga tradisi oral, dan juga memicu bidang pembelajaran lainnya seperti sejarah, filsafat, dan ilmu pasti.

Hesiodos menulis Erga Kai Hemerai dan Theogonia, yang menceritakan tentang penciptaan dunia, dewa, dam manusia.

Menjelang berakhirnya Zaman Kegelapan Yunani, orang Yunani Hellenik memulai penaklukan baru, terutama di timur dan di barat (abad 10-7 SM). Di timur, mereka menguasai banyak daerah di pesisir barat Asia Minor pada 950 SM. Mereka bahkan menjelajah sampai ke Laut Hitam. Di selatan, mereka mendirikan kota Kirene di Libya.

Di barat, mereka menaklukan bagian timur Sisilia, dan daerah dari Italia selatan sampai Kime (Cumae) di Campania. Mereka juga mendirikan kota Massalia (Marseilles) di Galia Selatan (Perancis) pada 600 SM. Mereka sempat menguasai Sardinia namun kemudian harus menyerahkan pulau tersebut setelah dikalahkan oleh bangsa Karthage. Mereka bahkan mencapai daerah Spanyol, di sana raja Tartessos memimpin orang Yunani untuk bermukim dan bercampur dengan warga local

  1. 5. ZAMAN KEGELAPAN YUNANI

Orang Yunani kuno terbagi menjadi tiga kaum, bangsa Doria Aiolia, dan Ionia. Sekitar 1100 SM, bangsa Doria yang tinggal di utara, mulai menyerang Mikenai. Seluruh kota Mikenai dihancurkan dan dijarah. Peradaban Mikenai akhirnya runtuh dan Yunani mengalami suatu periode yang disebut Zaman Kegelapan Yunani.

Banyak teori mengenai penyebab keruntuhan bangsa Mikenai. Bencana alam mungkin melemahkan ekonomi Mikenai, yang bersandar pada pertanian, sehingga mereka digantikan oleh bangsa Doria. Bangsa Doria mengembangkan perdagangan di penjuru Mediterania untuk menggantikan ekonomi lama. Daerah Attika (termasuk Athena) mulai muncul sebagai daerah yang dominan sebagai pusat perdagangan. Meskpin begitu, perubahan ini tidak terjadi dengan cepat karena seluruh Yunani butuh pemulihan pasca keruntuhan Mikenai. Namun kontak Yunani dengan bangsa dari luar ini membawa dampak yang sangat drastis bagi masa depan Yunani.

Perubahan paling drastis di Yunani pada periode ini adalah menghilangnya tulisan. Tidak ada catatan tertulis dari periode ini, dan tulisan dari peridoe setelah ini amatlah berbeda dibandingkan periode sebelum ini. Bangsa Doria menuturkan dialek yang berbeda dibanding bangsa Mikenai, dan hanya sedikit diketahui mengenai bahasa mereka. Semua dialek Yunani modern berakar dari Yunan Attika (Yunani Klasik), dengan satu pengecualian: dialek Tsakonia, yang berasal dari dialek Doria.

Bangsa Doria melakukan kontak dengan bangsa Funikia, bangsa penjelajah laut dari Levant. Bangsa Yunani lalu mengadaptasi konsep alfabet dari bangsa Funikia dan terciptalah alfabet Yunani. Alfabet Yunai tersebar melalui perdagangan ke seluruh Mediterania. Alfabet Yunani ini adalah yang pertama mempergunakan huruf vokal. Setelah sekian lama, akhirnya tulisan kembali ada di Yunani.

Bangsa Doria suka berperang. Seiring Yunani memasuki Zaman besi, maka besi pun secara luas dipakai untuk membuat senjata, menggantikan penggunaan perunggu. Dengan besi, senjata menajdi lebih murah, lebih kuat, dan lebih efektif dalam pertempuran. Pada periode ini, pasukan infantri menjadi sangat populer, dan Hoplite adalah nama untuk prajurit infantri Yunani kuno.

Bangsa Doria tidak menaklukan setiap wilayah menjadi wilayah mereka, sehingga pada Zaman Kegelapan, polis atau negara kota, mulai berkembang. Daerah Yunani yang berpegunungan menjadikan sulit untuk meunculnya satu kekuasaaan tunggal yang meliputi seluruh Yunani. Akibatnya kota-kota menguasai lanskap di sekelilingnya, dan menjadi unit politik mandiri. Setiap negara kota secara alami dilindungi oleh gunung di dekatnya.

Setelah Invasi Doria, sistem pemerintahan kerajaan muncul hampir di semua negara kota. Walaupun raja memegang posisi keagamaan yang tinggi, namun tidak dalam pemerintahan. Sebagian besar pemerintahan di beberapa polis didominasi oleh aristokrasi. Tiran juga muncul pada peridoe ini. Seorang Tiran adalah aristokrat yang memperoleh cukup kekuasaan untuk mengendalikan polis. Mereka didukung oleh pasukan hoplite pribadi, dan membuat pemerintahan otokrasi

Meskipun gunung-gunung menyebabkan Yunani sulit bersatu, namun polis-polis saling berbagi budaya, agama, dan bahasa yang sana. Pada peridoe inilah, orang Yunani mulai mengidentifikasi diri mereka sebagai bangsa Hellen. Meskipun berada pada polis yang berbeda, orang Hellen menuturkan bahasa yang sama, berpakaian dengan gaya yang sama, dan membuat arsitektur dengan gaya yang sama. Hal inilah yang menyatukan mereka sebagai bangsa Hellen.

  1. 6. SPARTA DAN ATHENA

Setelah Zaman Kegelapam Yunani, periode antara periode Mikenai dan periode Klasik disebut periode Arkhaik. Pada periode Arkhaik (abad 9-6 SM), Yunani mengalami perkembangan dalam bidang tulisan, filsafat, ilmu pasti, seni, ekonomi, politik, dan militer.

Secara tradisional, Olimpiade dimulai pada periode ini (776 SM).

Pada periode Arkhaik, banyak negara kota (polis) menerapkan sistem pemerintahan baru yang berbeda dari sistem pemerintahan monarki. Sistem baru tersebut di antaranya adalah aristokrasi, tirani, dan oligarki.

Ada dua negara kota yang berkembang pesat pada periode Arkhaik, yaitu Sparta dan Athena. Bangsa Sparta adalah orang-orang yang gila perang dan suka menaklukan daerah-daerah di sekitarnya. Pertama mereka mengaklukan Messenia, lalu Arkadia, lalu Argos, dan dengan demikian menjadikan Sparta berkuasa di Peloponnesos. Sparta menerapkan sistem oligarki, dengan dua raja yang saling berbagi kekuasaan, lima efor yang memegang kekuasaan cukup besar, dan gerousia, yaitu dewan para tetua.

Pada akhir abad ke-6 SM, sebuah pemerintahan baru, bangkit. Para penduduk Athena menggulingkan kekuasaan Hippias sang tiran. Seorang pria bernama Kleisthenines menciptakan demokrasi, dan semua orang (kecuali wanita, non-wara negara, dan budak) berhak memilih sepuluh hakim atau jenderal yang disebut strategos. Setiap warga Athena berhak menjabat posisi ini, seperti misalnya sejarawan Thukidides dan dramawan Sofokles.

Namun, Athena ikut campur terhadap kekuasaan Persia di Asia Minor, akibatnya terjadilah perang antara Kekaisaran Persia yang besar, dipimpin oleh Darius I, melawan negara kota Athens yang kecil. Secara luar biasa, pasukan Athena berhasil memenangkan pertempuran yang menentukan di Marathon pada 490 SM. Sepuluh tahun kemudian, Xerxes, putra Darius, berniat membalas kekalahan ayahnya. Xerxes memimpin pasukan besar menuju Yunani. Pada 480 SM, raja Sparta (Leonidas) bersama sekelompok prajurit menahan pasukan Persia di celah sempit Thermopilai, di Thessali, selama tiga hari, sebelum akhirnya pasukan Sparta pun dikalahkan. Ini memberi waktu bagi Athena untuk mengevakuasi rakyatnya sehingga rakyat Athena bisa menyelamatkan diri ke pulau Salamis dan Peloponnesos. Persia memaksa orang Thessali dan Boiotia (termasuk Thebes) untuk menjadi prajurit Persia. Kota Athena pada akhirnya dengan mudah ditaklukan namun kota itu sudah kosong karena sebagian besar penduduknya sudah melarikan diri.

Di bawah pemimpinan jenderal Themistokles dari Athena, pasukan Athena beserta Sparta dan sekutu mereka berusaha menghadapi armada Persia di Slamais. Pertempuran laut yang luar biasa, terjadi di Teluk Saronik, di sana armada Yunani berhasil menghancurkan dan menenggelamkan banyak sekali kapal Persia. Setelah kalah, Xerxes membawa sisa-sisa armada lautnya meninggalkan Yunani. Sementara jenderalnya, bersama sepasukan prajurit, ditinggalkan di Yunani untuk berhadapan dengan pasukan Yunani di darat. Pasukan Yunani sendiri dipimpin oleh jenderal Pausanias dari Sparta. Pada 479 SM, sisa-sisa pasukan Persia diluluhlantakan di Plataia, dan jenderal terbaik Xerxes, Mardonius, terbunuh dalam pertempuran.

Kemenangan di Plataia bisa terwujud berkat keberanian, kedisiplinan, dan kehebatan prajurit Yunani, selain juga berkat hoplite (infantri berat) Yunani dan taktik falanga mereka.

Rakyat Athena kembali ke kota Athena dan mulai membangun kembali kota mereka. Mereka mengembangkan armada laut yang tangguuh, dan mendirikan Liga Delos. Dalam perkumpulan ini, sebagian besar anggotanya, yang merupakan kota-kota di pulau-pulau Aigea, harus mengumpulkan uang atau kapal perang. Pada awalnya, ini merupakan cara Athena untuk menyerang kekaisaran Persia, namun strategi mereka berubah. Harta hasil sumbangan anggota-anggota Liga Delos awalnya disimpan di pulau Delos. namun setelah Perikles, jenderal dan pemimpin Athena, berkuasa, dia memindahkan semua harta itu ke kota Athena. Dengan semua kekayaan itu, Athena menjadi kekuatan maritim terbesar di Yunani. Setelah itu, Athena membubarkan Liga Delos dan mendirikan Kekaisaran Athena.

Dengan kekayaan itu pula, kota Athena menjadi semakin berkembang pada pertengahan abad kelima SM. Arsitektur dan seni mencapai level yang lebih tinggi ketika Perikles membangun kuil Parthenon di Akropolis untuk memuja dewi penjaga mereka, dewi Athena. Selain sebagai pusat kekayaan dan kekuatan, Athena juga menjadi pusat ilmu pengetahuan. Berbagai bidang keilmuan berkembang pesat, misalnya pengobatan, ilmu pasti, filsafat, dan sastra. Muncul banyak cendekiawan di Athena: Fidias dalam bidang seni, Iktinos dan Kallikrates dalam bidang arsitektur, Sofokles dan Euripides adalah penulis drama tragedi yang sangat terkenal, sedangkan Aristofanes menulis drama komedi. Dalam filsafat, Sofokles mengajari orang-orang melalui pertanyaan-pertanyaan yang membuat mereka berpikir.

Karena merasa sangat kuat, Athena pun menjadi arogan. Athena menyerang kota Korintus dan Thebes, yang merupakan sekutu Sparta. Akibatnya Sparta pun terlibat dalam konflik ini dan terjadilah perang Athena-Sparta, yang disebut Perang Perloponnesos (431-404 SM). Athena memperoleh beberapa kemenangan kecil, namun Athena kehilangan banyak orang penting, termasuk Perikles, yang mati oleh wabah ketika kota Athena dikepung.

Athens mulai lemah, terutama setelah mereka kalah dalam pertempuran di Trakia (423 SM), dan dalam pengepungan Sirakos (414-413 BC). Athena kehilangan sebagian besar armada lautnya pada pertempuran di Notion (406 SM) dan Aigospotami (405 SM), pada saat itu Sparta dipimpin oleh jenderal Lisander. Biasanya Sparta lemah dalam hal pertempuran laut, tapi kali ini Sparta dibantu oleh Kekaisaran Persia. Athena akhirnya dikepung dan terpaksa menyerah pada 404 SM.

Pada abad keempat SM, Sparta menjadi kekuasaan terkuat di Yunani setelah Athena menyerah. Pada awalnya, Sparta berniat menginvasi Kekaisaran Persia. Tetapi, Sparta kemudian mencoba memasukkan orang-orang Sparta ke dalam tampuk kekuasaan di kota-kota sekutunya, Korintus dan Thebes. Akibatnya, Sparta melakukan kesalahan yang dulu dilakukan Athena. Sparta pun akhirnya dikalahkan oleh Thebes pada pertempuran dI Liuktra (371 SM) dan Mantinia (362 SM), melalui kepemimpinan jenderal Epaminondas, meskipun dia meninggal pada pertempuran Mantinia.

Tanpa Epaminondas, supremasi Thebes hanya berlangsung sebentar. Sementara itu, dengan mengadapatsi taktik Epaminondas, Philip II dari Makedonia berhasil menaklukan Yunani. Philip menguasai Yunani setelah menang dalam serangkaian pertempuran melawan daerah-daerah di sekitarnya (kota-kota Trakia dan Thessali), kemudian Philip mengalahkan daerah Yunani yang lainnya, yang berujung pada Pertempuran Khaironia (338 SM).

Abad keempat SM ditandai dengan munculnya Plato dan Aristoteles, namun hanya sedikit tulisan mengenai mitologi yang dibuat pada masa ini.

7.   ALEKSANDER AGUNG DAN ZAMAN HELLENIS

Putra Philip, Aleksander (Alexandros, 356-323 SM), dikenal sebagai Aleksander Agung (Megas Alexandros), membuktikan dirinya sebagai jenderal hebat ketika dia memimpin prajurit kavaleri (berkuda) pada pertempuran Khaironia. Setelah Philip dibunuh pada 336 SM, Aleksander III mencoba melanjutkan rencana ayahnya untuk menaklukan Kekaisaran Persia, yang dipimpin oleh Darius III. Pertama-tama, Aleksander dihadapkan pada pemebrontakan di Trakia, Illiria dan Thebes di Boiotia, dan daerah Yunani yang lainnya juga ikut bergejolak. Aleksander merespon dengan cepat, dia meredam pemberontakan di Trakia dan Illiria dengan cepat. Sementara di Thebes, Aleksander sedikit kejam, dia memperbudak semua penduduknya. Hanya rumah Pindar, penyair abad kelima SM, yang tidak dihancurkan di Thebes. Tindakan ini ikut menghentikan usaha pemberontakan di kota-kota lainnya, termasuk di Athena.

Dengan campuran pasukan Makedonia dan prajurit Yunani, Aleksander memasuki Kekasiaran Persia. Aleksander menyebrangi Hellespont dan singgah di Troya. Di sana dia mengklaim dirinya sebagai keturunan langsung Akhilles lewat Neoptelemos. Aleksander menghadapi sejumlah besar pasukan Persia di Granikos, yang berhasil dia kalahkan meskipun dia terluka. Kebanyakan satrapi (provinsi) di Asia Minor menyerahkan diri pada kekuasaan Aleksander dan menyebutnya sebagai pembebas. Sementara kota Miletos menyerah setelah dikepung oleh pasukan Aleksander.

Dalam usahanya mengalahkan pasukan laut Persia, Aleksander berupaya menaklukan kota-kota pelabuhan alih-alih menghadapi secara langsung di laut. Dengan cara ini, armada laut Persia tidak memiliki tempat berlabuh.

Dari Kilika, pasukan Makedonia memasuki Suriah, di sana terjadi pertempuran di Issos pada 333 SM. Kali ini, Darius langsung yang menjadi komando pasukan Persia. Tak seperti Aleksander, Darius tidak terlibat dalam baku hantam, sehingga ketika Darius merasa terancam, dia langsung kabur dan meinggalkan pasukannya. Aleksander akhirnya menang dan menangkap banyak tawanan, termasuk ibu dan anak-anak Darius.

Sebagian besar Suriah menyerah pada Aleksander, kecuali dua kota, Tire dan Gaza. Kedua kota ini berhasil ditaklukan setelah dikepung. Aleksander lalu bergerak menuju Mesir. Di Mesir, dia mendirikan kota Aleksandria/Iskandariyah (332 SM). Selain itu para pendeta Mesir juga memberinya gelar sebagai putra dewa Ammons.

Aleksander menghabiskan musim dingin di Mesir sebelum bergerak ke timur. Pada 331 SM, Aleksander mengalahkan pasukan Persia pada Pertempuran Gaugamela. Babilonia dan Persia akhirnya menyerah pada Aleksander. Darius lagi-lagi kabur, kali ini dia pergi ke Baktria di Asia Tengah. Di sana Darius malah dibunuh oleh Bessus, salah satu gubernurnya sendiri. Akibat perbuatannya itu, Aleksander menangkap dan menghukum mati Bessus.

Pasukan Makedonia meneruskan kampanye militer di bentang alam yang keras di Asia Tengah, melawan Skithia (Kaukasus), Baktria dan Sogdiana (Afghanistan modern). Aleksander menaklukan benteng di Tebing Sogdia yang berbatu dengan cara mengerahkan para prajurit yang memanjat tebing itu pada malam hari. Di sana dia juga bertemu Roxane, putri Oxiartes, yang kemudian dia nikahi.

Setelah menguasai Persia, Aleksander mengadopsi kebudayaan Persia. Hal menimbulkan rasa ketidaksukaan dari para prajuritnya. Namun, pada saat yang sama, Aleksander juga menyebarkan budaya dan bahasa Yunani ke daerah Timur. Hasilnya, terbentuklah dialek Yunani yang baru, yang disebut Koine, dan banyak digunakan pada periode Hellenistik berikutnya. Koine terus digunakan ketika Romawi menguasai kerajaan-kerajaan di Timur.

Pasukan Makedonia lalu bergerak ke Hindu-Kush, sebelum turun ke sungai Indus di India. Kampanye militer Aleksander di India berakhir pada Pertempuran Hydaspes (326 SM). Tidak lama setelah pertempuran itu, pasukan Aleksander menolak pergi lebih jauh ke timur karena sudah kelelahan setelah bertahun-tahun bertempur, selain itu prajurit India ternyata lebih hebat dari dugaan mereka. Akhirnya Aleksander terpaksa kembali ke Babilonia.

Di Babilonia, pada 323 SM, Aleksander kembali menyusun rencana penaklukan, kali ini dia ingin menguasai semenanjung Arabia. Namun sebelum rencananya terlaksana, Aleksander jatuh sakit dan meninggal pada 13 Juni 323 SM.

Beberapa jenderalnya, misalnya Ptolemios dan Artistobulos, menulis catatan mengenai kampanye militer Aleksander. Tulisan mereka menjadi sumber utama bagi para sejarawan.

Setelah Aleksander meninggal, kekaisarannya tak bertahan lama. Kekaisarannya terbagi menjadi beberapa kerajaan besar, di antaranya Makedonia (Kassander), Thrakia (Lisimakhos), kerajaan Antigonos, yang meliputi Asia Minor dan Suriah, kerajaan Seleukus (Babilonia, Persia, dan sekitarnya), sedangkan Ptolemios memerintah Mesir dan Libya. Para penerus Aleksander saling berebut kekuasaan dan wilayah selama beberapa generasi berikutnya.

Di Yunani, dua liga terbentuk untuk melawan kekuasaan Makedonia, yakni Liga Aitolia dan liga Akhaia (Dengan ibukotanya di Korintus).

Di Mesir, Aleksandria menjadi ibukota baru Mesir tempat Ptolemios dan para penerusnya berkuasa. Sebuah perpustakaan besar dibangun di sana pada awal abad ketiga SM. Aleksandria menjadi pusat keilmuan. Apollonios dari Rhodes bekerja di perpustakaan ini, dan dia menulis cerita tentang petualangan Iason dalam mencari domba emas, yang dia beri judul Argonautika.

Makedonia dan Yunani ditaklukan oleh Romawi pada awal abad kedua SM. Pasukan Romawi membumihanguskan kota Korintus pada 146 SM. Yunani dan Makedonia pun menjadi provinsi Romawi. Romawi lalu menaklukan kerajaan-kerajaan Hellenistik lainnya. Mesir adalah kerajaan besar terakhir yang jatuh dalam kekuasaan Romawi. Penguasa terakhir Mesir adalah Cleopatra, yang bunuh diri setelah dikalahkan oleh Oktavianus Augustus dari Romawi pada 31 SM. Oktavianus Augustus sendiri pada akhirnya menjadi kaisar pertama Romawi.

KASTA

Standar
  1. A. PENDAHULUAN

Kasta dari bahasa Portugis adalah pembagian masyarakat. Kasta yang sebenarnya merupakan perkumpulan tukang-tukang, atau orang-orang ahli dalam bidang tertentu, semestinya harus dibedakan dari warna atau Catur Warna (Hindu), karena memang pengertian di antara kedua istilah ini tidak sama. Pembagian manusia dalam masyarakat agama Hindu:

  1. Warna Brahmana, para pekerja di bidang spiritual ; sulinggih, pandita dan rohaniawan.
  2. Warna Ksatria, para kepala dan anggota lembaga pemerintahan.
  3. Warna Waisya, para pekerja di bidang ekonomi
  4. Warna Sudra, para pekerja yang mempunyai tugas melayani/membantu ketiga warna di atas.

Sedangkan di luar sistem Catur Warna tersebut, ada pula istilah :

  1. Kaum Paria, Golongan orang terbuang yang dianggap hina karena telah melakukan suatu kesalahan besar
  2. Kaum Candala, Golongan orang yang berasal dari Perkawinan Antar Warna

Dalam agama Hindu, istilah Kasta disebut dengan Warna (Sanskerta: vara). Akar kata Warna berasal dari bahasa Sanskerta vrn yang berarti “memilih (sebuah kelompok)”. Dalam ajaran agama Hindu, status seseorang didapat sesuai dengan pekerjaannya. Dalam konsep tersebut diuraikan bahwa meskipun seseorang lahir dalam keluarga Sudra (budak) ataupun Waisya (pedagang), apabila ia menekuni bidang kerohanian sehingga menjadi pendeta, maka ia berhak menyandang status Brahmana (rohaniwan). Jadi, status seseorang tidak didapat semenjak dia lahir melainkan didapat setelah ia menekuni suatu profesi atau ahli dalam suatu bidang tertentu[1].

Dalam tradisi Hindu, Jika seseorang ahli dalam bidang kerohanian maka ia menyandang status Brāhmana. Jika seseorang ahli atau menekuni bidang administrasi pemerintahan ataupun menyandang gelar sebagai pegawai atau prajurit negara, maka ia menyandang status Ksatriya. Apabila seseorang ahli dalam perdagangan, pertanian, serta profesi lainnya yang berhubungan dengan niaga, uang dan harta benda, maka ia menyandang status Waisya. Apabila seseorang menekuni profesi sebagai pembantu dari ketiga status tersebut (Brahmana, Ksatriya, Waisya), maka ia menyandang gelar sebagai Sudra.

  1. B. WARNA YANG UTAMA
    1. 1. Brahmana

Brahmana merupakan golongan pendeta dan rohaniwan dalam suatu masyarakat, sehingga golongan tersebut merupakan golongan yang paling dihormati. Dalam ajaran Warna, Seseorang dikatakan menyandang gelar Brahmana karena keahliannya dalam bidang pengetahuan keagamaan. Jadi, status sebagai Brahmana tidak dapat diperoleh sejak lahir. Status Brahmana diperoleh dengan menekuni ajaran agama sampai seseorang layak dan diakui sebagai rohaniwan.

  1. 2. Ksatriya

Ksatriya merupakan golongan para bangsawan yang menekuni bidang pemerintahan atau administrasi negara. Ksatriya juga merupakan golongan para kesatria ataupun para Raja yang ahli dalam bidang militer dan mahir menggunakan senjata. Kewajiban golongan Ksatriya adalah melindungi golongan Brahmana, Waisya, dan Sudra. Apabila golongan Ksatriya melakukan kewajibannya dengan baik, maka mereka mendapat balas jasa secara tidak langsung dari golongan Brāhmana, Waisya, dan Sudra.

  1. 3. Waisya

Waisya merupakan golongan para pedagang, petani, nelayan, dan profesi lainnya yang termasuk bidang perniagaan atau pekerjaan yang menangani segala sesuatu yang bersifat material, seperti misalnya makanan, pakaian, harta benda, dan sebagainya. Kewajiban mereka adalah memenuhi kebutuhan pokok (sandang, pangan, papan) golongan Brahmana, Ksatriya, dan Sudra.

  1. 4. Sudra

Sudra merupakan golongan para pelayan yang membantu golongan Brāhmana, Kshatriya, dan Waisya agar pekerjaan mereka dapat terpenuhi. Dalam filsafat Hindu, tanpa adanya golongan Sudra, maka kewajiban ketiga kasta tidak dapat terwujud. Jadi dengan adanya golongan Sudra, maka ketiga kasta dapat melaksanakan kewajibannya secara seimbang dan saling memberikan kontribusi.

  1. C. SISTEM KERJA

Caturwarna menekan seseorang agar melaksanakan kewajibannya dengan sebaik-baiknya. Golongan Brahmana diwajibkan untuk memberi pengetahuan rohani kepada golongan Ksatriya, Waisya, dan Sudra. Golongan Ksatriya diwajibkan agar melindungi golongan Brahmana, Waisya, dan Sudra. Golongan Waisya diwajibkan untuk memenuhi kebutuhan material golongan Brahmana, Ksatriya, dan Sudra. Sedangkan golongan Sudra diwajibkan untuk membantu golongan Brahmana, Ksatriya, dan Waisya agar kewajiban mereka dapat dipenuhi dengan lebih baik.

Keempat golongan tersebut (Brahmana, Ksatriya, Waisya, Sudra) saling membantu dan saling memenuhi jika mereka mampu melaksanakan kewajibannya dengan baik. Dalam sistem Caturwarna, ketentuan mengenai hak tidak diuraikan karena hak diperoleh secara otomatis. Hak tidak akan dapat diperoleh apabila keempat golongan tidak dapat bekerja sama. Keempat golongan sangat dianjurkan untuk saling membantu agar mereka dapat memperoleh hak. Dalam sistem Caturwarna terjadi suatu siklus “memberi dan diberi” jika keempat golongan saling memenuhi kewajibannya.

Karena status seseorang tidak didapat semenjak lahir, maka statusnya dapat diubah. Hal tersebut terjadi jika seseorang tidak dapat melaksanakan kewajiban sebagaimana status yang disandangnya. Seseorang yang lahir dalam keluarga Brāhmana dapat menjadi seorang Sudra jika orang tersebut tidak memiliki wawasan rohani yang luas, dan juga tidak layak sebagai seorang pendeta. Begitu pula seseorang yang lahir dalam golongan Sudra dapat menjadi seorang Brāhmana karena memiliki pengetahuan luas di bidang kerohanian dan layak untuk menjadi seorang pendeta.

  1. D. PENYIMPANGAN

Banyak orang yang menganggap Caturwarna sama dengan Kasta yang memberikan seseorang sebuah status dalam masyarakat semenjak ia lahir. Namun dalam kenyataannya, status dalam sistem Warna didapat setelah seseorang menekuni suatu bidang/profesi tertentu. Sistem Warna juga dianggap membeda-bedakan kedudukan seseorang. Namun dalam ajarannya, sistem Warna menginginkan agar seseorang melaksanakan kewajiban sebaik-baiknya.

Kadangkala seseorang lahir dalam keluarga yang memiliki status sosial yang tinggi dan membuat anaknya lebih bangga dengan status sosial daripada pelaksanaan kewajibannya. Sistem Warna mengajarkan seseorang agar tidak membanggakan ataupun memikirkan status sosialnya, melainkan diharapkan mereka melakukan kewajiban sesuai dengan status yang disandang karena status tersebut tidak didapat sejak lahir, melainkan berdasarkan keahlian mereka. Jadi, mereka dituntut untuk lebih bertanggung jawab dengan status yang disandang daripada membanggakannya.

Di Indonesia (khususnya di Bali) sendiri pun terjadi kesalahpahaman terhadap sistem Catur Warna. Catur Warna harus secara tegas dipisahkan dari pengertian kasta. Pandangan tersebut dikemukakan oleh Drs. I Gusti Agung Gde Putera, waktu itu Dekan Fakultas Agama dan Kebudayaan Institut Hindu Dharma Denpasar pada rapat Desa Adat se-kabupaten Badung tahun 1974. Gde Putera yang kini Dirjen Bimas Hindu dan Buddha Departemen Agama mengemukakan[2]:

Kasta-kasta dengan segala macam titel-nya yang kita jumpai sekarang di Bali adalah suatu anugerah kehormatan yang diberikan oleh Dalem (Penguasa daerah Bali), oleh karena jasa-jasa dan kedudukannya dalam bidang pemerintahan atau negara maupun di masyarakat. Dan hal ini diwarisi secara turun temurun oleh anak cucunya yang dianggap sebagai hak, walaupun ia tidak lagi memegang jabatan itu. Marilah jangan dicampur-adukkan soal titel ini dengan agama, karena titel ini adalah persoalan masyarakat, persoalan jasa, persoalan jabatan yang dianugerahkan oleh raja pada zaman dahulu. Dalam agama, bukan kasta yang dikenal, melainkan “warna” dimana ada empat warna atau Caturwarna yang membagi manusia atas tugas-tugas (fungsi) yang sesuai dengan bakatnya. Pembagian empat warna ini ada sepanjang zaman.

Menurut I Gusti Agung Gede Putera, kebanggaan terhadap sebuah gelar walaupun jabatan tersebut sudah tidak dipegang lagi merupakan kesalahpahaman masyarakat Bali turun-temurun. Menurutnya, agama Hindu tidak pernah mengajarkan sistem kasta melainkan yang dipakai adalah sistem Warna.

PEMAHAMAN YANG SALAH TENTANG KASTA DI BALI

Sampai saat ini umat Hindu di Indonesia khususnya di Bali masih mengalami polemik masalah Kasta. Hal ini menyebabkan ketidaksetaraan status sosial diantara masyarakat Hindu. Masalah ini muncul karena pengetahuan dan pemahaman yang dangkal tentang ajaran Agama Hindu dan Kitab Suci Weda yang merupakan pedoman yang  paling ampuh bagi umat Hindu agar  menjadi manusia yang beradab yaitu memiliki kemampuan bergerak (bayu), bersuara (sabda) dan berpikir (idep) dan berbudaya yaitu menghormati sesama ciptaan Tuhan Yang Maha Esa tanpa membedakan asal usul keturunan, status sosial, dan ekonomi.

Pada masyarakat Hindu di  Bali,terjadi  kesalahan dan kekaburan dalam pemahaman dan pemaknaan warna, kasta, dan wangsa yang berkepanjangan. Dalam agama Hindu tidak dikenal istilah Kasta. Istilah yang termuat dalam kitab suci Veda adalah Warna. Apabila kita mengacu pada Kitab Bhagavadgita, maka yang dimaksud dengan Warna adalah Catur Warna, yakni pembagian masyarakat menurut Swadharma (profesi) masing-masing orang. Sementara itu, yang muncul dalam kehidupan masyarakat Bali adalah Wangsa, yaitu sistem kekeluargaan yang diatur menurut garis keturunan. Wangsa tidak menunjukkan stratifikasi sosial yang sifatnya vertikal (dalam arti ada satu Wangsa yang lebih tinggi dari Wangsa yang lain). Namun demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa masih ada warga masyarakat yang memiliki pandangan bahwa ada suatu Wangsa yang dianggap lebih tinggi daripada Wangsa yang lain. Untuk merubah pandangan seperti ini memang perlu sosialisasi dan penyamaan persepsi. Oleh karena itu, lebih baik tidak diperdebatkan lagi.

Wiana (2000) menjelaskan perbedaan antara warna dan kasta. Warna merupakan penggolongan masyarakat berdasarkan fungsi dan profesi. Dalam ajaran Agama Hindu dikenal adanya empat warna/Catur Warna yaitu brahmana-orang-orang yang bertugas untuk memberikan pembinaan mental dan rohani serta spiritual, ksatria-orang orang yang bertugas untuk mengatur negara dan pemerintahan serta rakyatnya, waisya-orang yang bertugas untuk mengatur perekonomian, dan sudra-orang yang bertugas untuk memenuhi kebutuhan hidup dengan menjadi pelayan atau pembantu orang lain.

Warna dan gelar serta namanya sama sekali tidak diturunkan atau diwariskan ke generasi berikutnya. Warna tidak bersifat statis, tetapi dinamis. Artinya, warna bisa berubah setiap saat sesuai dengan fungsi dan profesinya, sebagai contoh; seorang yang berasal dari golongan sudra karena ketekunannya dalam belajar dan bekerja berhasil menjadi seorang polisi atau tentara maka secara otomatis golongannya meningkat menjadi seorang ksatria yang bertugas untuk membela dan mempertahankan kedaulatan negara. Bisa saja seorang brahmana yang melakukan tindak kejahatan seperti; pencurian, pemerkosaan, perjinahan dan tinakan melawan hukum lainnya turun derajatnya menjadi golongan yang lebih dan bahkan paling rendah karena perbuatannya sehingga harus menjalani hukuman penjara dan setelah selesai menjalani hukuman akan kembali bergabung dengan masyarakat dan tidak tahu lagi akan menjadi bergelut dalam bidang apa.

Hubungan di antara golongan pada warna hanya dibatasi oleh “dharma”-kewajiban yang berbeda-beda tetapi menuju satu tujuan yakni kesempurnaan hidup. Jadi, catur warna sama sekali tidak membeda-bedakan harkat dan martabat manusia dan memberikan manusia untuk mencari jalan hidup dan bekerja sesuai dengan sifat, bakat, dan pembawaannya sejak lahir hingga akhir hayatnya.

Sedangkan kasta merupakan penggolongan status sosial masyarakat dengan mengadopsi konsep catur warna (brahmana, ksatria, wesyia, dan sudra) yang gelar dan atribut namanya diturunkan dan diwariskan ke generasi berikutnya. Artinya, walaupun keturunannya tidak lagi berprofesi sebagai pendeta atau pedanda tetapi masih menggunakan gelar dan nama yang dimiliki leluhurnya yang dulunya menjadi pendeta atau pedanda. Ini sangat tidak masuk akal. Bagaimana mungkin seseorang yang belum tentu atau tidak memiliki sifat-sifat brahmana harus disebut sebagai brahmana, dan juga terjadi pada kasta yang lainnya.
Terlebih lagi nama dan gelar warisan masing-masing leluhurnya sekarang ini semakin diagung-agungkan dan digunakan untuk mempertajam kesenjangan di antara golongan kasta yang ada. Tetapi, jika nama dan gelarnya yang dipakai keturunannya hanya dijadikan sebagai tanda penghormatan kepada leluhurnya, maka tindakan ini merupakan tindakan yang sangat mulia dan terhormat.

Konsep kasta sangat bertentangan dengan konsep warna dalam ajaran agama hindu. Namun, kesalahan pemahaman tentang kasta dan warna masih saja terjadi dan terus berlangsung hingga sekarang ini. Jika terjadi kesalahpahaman yang berkelanjutan maka tidak tertutup kemungkinan akan terjadi konflik,  perpecahan, dan kekacauan di masa yang akan datang.
Tidak dapat dipungkiri banyak konflik yang terjadi akibat perbedaan kasta ini, seperti Konflik antar masyarakat yang terjadi pada Bulan Maret 2007 di Desa Tusan, Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung-Bali merupakan salah satu buntut dari tidak harmonisnya hubungan antara kaum brahmana dan sudra. Puluhan rumah kaum “kasta brahmana” dirusak dan dihanguskan oleh masyarakat sehingga masyarakat yang rumahnya hancur harus dievakuasi dan diamankan serta ditampung di MAPOLRES (Markas Polisi Resor) Klungkung. Perlu dipertanyakan kenapa ini terjadi? Tak bisa dibayangkan lagi bagaimana benci dan marahnya masyarakat terhadap kaum brahmana sehingga tega melakukan hal-hal yang anarkis ini. Belum ada penjelasan dari aparat berwenang mengenai penyebab kejadian ini. Walaupun demikian, patut diacungi jempol para masyarakat di sana bisa berdamai dan hidup berdampiangan kembali serta membuat pernyataan damai di antara masyarakat yang berkonflik.

Dari penjelasan diatas jelas sudah perbedaan pandangan mengenai kasta, warna, dan wangsa. Kita sebagai umat Hindu yang memiliki intelektual sudah menjadi kewajiban memahami konsep ini agar tidak terjadi pandangan yang salah yang dapat menyebabkan kesenjangan sosial antarumat Hindu lebih-lebih bisa menyebabkan konflik yang berkepanjangan. Namun, sekarang ini nampaknya ada usaha-usaha untuk semakin mempertajam kesenjangan umat Hindu khususnya di Bali. Sebagai contoh mengenai pembagian wewenang, hak dan kewajiban pendeta. Pedanda (pendeta yang berasal dari kalangan Kasta Brahmana) memiliki wewenang yang jauh lebih tinggi dari pada pemangku (pendeta yang berasal dari Kasta Sudra). Pendanda bisa menyelesaikan kelima upacara keagamaan yang ada dalam agama hindu di Bali yang lazim disebut sebagai Panca Yadnya yaitu:

  1. Dewa yadnya-upacara keagamaan yang ditujukan kepada Tuhan dan manifestasinya seperti odalan di pura-pura baik pura sad khayangan (pura umum yang bisa dikunjungi dan disembahyangi oleh semua umat hindu tanpa membedakan asal-usul keturunan) pura dang kayangan (pura yang sempat disinggahi oleh Dang Hyang Niratha-penyebar Agama Hindu dari Jawa) maupun pura keluarga atau merajan;
  2. Rsi yadnya-upacara keagamaan yang ditujukan untuk para rsi atau upacara penyucian manusia seperti upacara dwi jadi (pengukuhan stutus dari masyarakat biasa menjadi pedanda atau pemangku);
  3. Manusia yadnya-upacara keagamaan yang ditujukan untuk manusia seperti upacara bayi tujuh bulan dalam kandungan (magedong-gedongan), upacara satu bulan tujuh hari setelah bayi lahir (tutug kambuhan), upacara tiga bulan setelah bayi lahir (nelu bulanin), enam bulan setelah lahir (otonan), upacara potong gigi, dan upacara pernikahan (mewidhi- wedhana);
  4. Pitra yadnya-upacara yang ditujukan kepada pitara atau orang yang sudah meninggal seperti upacara ngaben, ngeroras, dan nuntun;
  5. Butha yadnya-upacara yang ditujukan kepada bhuta kala yang bertujuan untuk menyeimbangkan dunia dari pengaruh positif dan negatif.
    Sedangkan pendeta yang berasal dari kalangan kasta lain tidak bisa menyelesaikan kelima upacara agama tersebut di atas. Pembagian wewenang ini tanpa berlandaskan sumber yang jelas dan sering kali berasal dari justifikasi dan penapsiran orang atau kalangan tertentu saja.
    Sistem pembagian tugas dan wewenang pendeta ini hanya cocok diberlakukan di Bali saja karena tidak semua umat Hindu di seluruh Indonesia maupun dunia memiliki pendeta yang berasal dari golongan kasta brahmana.

Dalam Bhagawad Gita secara jelas disebutkan bahwa dasar persembahan kepada Tuhan adalah “keiklasan” dan sama sekali tidak berdasarkan besar atau kecilnya persembahan dan siapa yang menyelesaikan upacara karena semua manusia sama di hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Apa yang dijelaskan di dalam ajaran suci Agama Hindu ini juga mempertegas bahwa tidak ada perbedaan di antara kita semua. Kita semua mahluk Tuhan dan tak perlu lagi ada pengkotak-kotakan yang berakibat pada perpecahan. Cintailah semua ciptaan Tuhan, semoga damai!

Sistem Kasta dalam “budaya” Hindu (baca: bukan Agama Hindu) membagi masyarakat pemeluknya menjadi 4 golongan besar. Golongan pertama adalah Kasta Brahmana. Golongan kedua dan ketiga adalah Kasta Ksatrya dan Waisya. Dan golongan terakhir dan terrendah adalah Kasta Sudra. Ada pendapat yang bilang bahwa sistem kasta sebenarnya bukan berasal dari sistem Agama Hindu yang berdasarkan Kitab Suci Veda, tapi sebagai sebuah aturan untuk membagi masyarakat dalam kelompok profesi untuk menjamin ketertiban umum. Kemudian ada juga yang bilang bahwa sistem kasta sebenarnya tidak bersumber dari Agama Hindu, tapi muncul dari sistem feodal kerajaan untuk menjamin legitimasi sebuah dinasti, terbukti sistem pembagian masyarakat ini juga dipraktekkan oleh peradaban lain selain peradaban Hindu.