Category Archives: Teoti Invasi Bangsa Arya

Teori Invasi Bangsa Arya

Standar

Hampir seluruh kebudayaan kuno yang telah ditemukan selalu berada dekat dengan lembah sungai. Manusia pada saat itu menganggap air merupakan satu-satunya sumber kehidupan. Dengan berada di dekat air, mereka dapat melangsungkan kehidupan dan sungai adalah tempat yang cocok untuk hal tersebut. Hal ini terjadi bukan tanpa alasan. daerah yang dekat dengan sungai adalah daerah yang memiliki kekayaan alam yang besar. Banyaknya vegetasi tumbuh-tumbuhan dan hewan mencerminkan suburnya kawasan di sekitar sungai tersebut. Sungai Indus di India tentu saja telah memiliki aspek-aspek tersebut, ditambah lagi sungai itu diapit oleh pegunungan-pegunungan besar yang memiliki kondisi flora dan fauna yang melimpah. Semuanya menjadikan sungai Indus sebagai salah satu sungai yang menjadi pusat peradaban kuno di dunia khususnya di daratan India.

Keberadaan sungai Indus dalam sejarah mewakili dua kota peninggalan kuno yang paling penting dan paling awal dalam peradaban India, yaitu kota Mohenjodaro, propinsi Sindu, Pakistan dan kota Harappa di propinsi Punjab, India. Menurut para ahli berdasarkan penentuan karbon 14 -penelitian penentuan umur suatu benda organik, tulang dengan menggunakan senyawa C14-, menunjukkan bahwa keberadaan kedua kota ini antara tahun 2000 hingga 3000 SM.

Awal abad ke-20, arkeolog Inggris Sir John Hubert Marshall1 melakukan penggalian kota kuno Mohenjodaro dan Harappa. Hasilnya adalah tingkat kesibukan dan keramaian kedua kota tersebut sangat tinggi. Dikatakan bahwa kedua kota tersebut merupakan ibukota dua kekuasaan berbeda yang terjadi antara tahun 2350-1750 SM. Penelitian lebih lanjut menghasilkan perhitungan bahwa dua kota tersebut masing-masing memiliki sekitar 30 hingga 40 ribu penduduk, lebih banyak dibanding penduduk kota London pada abad pertengahan.

Berdasarkan bukti-bukti sejarah yang ditemukan oleh John Marshall tersebut, pendukung kebudayaan kuno India terdiri dari dua bangsa yaitu; suku bangsa Dravida dan Arya. Keduanya merupakan unsur utama kebudayaan India dan saling melengkapi. Perbedaannya adalah bangsa Dravida merupakan penduduk asli India, sedangkan suku bangsa Arya merupakan bangsa pendatang dari arah utara. Hal ini dapat dilihat secara kasat mata melalui bentuk fisik keduanya.

Selama ini kita mengetahui bahwa Bangsa Dravida merupakan bangsa yang berasal dari ras australoid yakni berkulit coklat dan berhidung pipih. Sedangkan Bangsa Arya berasal dari ras kaukasoid (Indo-Jerman) sehingga memiliki hidung mancung dan berkulit putih. Sebagai pendatang, bangsa Arya menganggap bangsa Dravida lebih rendah tingkat kebudayaannya. Tetapi satu hal yang menjadi catatan sejarah adalah bangsa Dravida telah meninggalkan satu monumen sejarah yang menjadi bukti tingginya budaya mereka. Peradaban suku bangsa Dravida berpusat di tepi sungai Indus. Peninggalan tersebut adalah reruntuhan kota tua Mohenjodaro dan Harappa itu sendiri. Bangsa Dravida merupakan bangsa awal yang membangun peradaban kuno di India.

Setelah hancurnya kota Mohenjodaro dan Harappa yang menurut para ahli akibat gangguan ekologis (hujan makin berkurang, hutan-hutan habis ditebang karena kayunya dipakai untuk dapur), bangsa Arya datang dan mendiami kawasan di sebelah timur sungai Indus, diantara sungai Sutlej dan Yamuna. Namun sebelum menginvasi daerah India, bangsa Arya terlebih dahulu menjadi bangsa yang hidup di peradaban kebudayaan Sumeria yang terkenal akan lembah sungai Tigris dan Efrat. Bangsa Arya menjadi nenek moyang orang Irak dan Iran sekarang.

Sebelum datang ke India, bangsa Arya dikenal memiliki kemampuan bersyair yang tinggi walau tidak mengenal bahasa tulis. Tradisi lisan ini merupakan transisi masa prasejarah dan sejarah. Ditandai dengan munculnya Kitab Suci Veda, kitab suci agama Hindu. Sehingga masa kedatangan suku bangsa Arya sering disebut sebagai jaman Veda, karena pada saat itu pula lahir agama Hindu di tanah India. Dengan begitu secara langsung suku bangsa Arya memperkenalkan kebudayaan tulis bagi tanah India.

Namun yang menjadi pertanyaan besar ialah apakah benar bangsa Arya lah yang membawa kitab Veda dan menginvasi bangsa Dravida dari lembah sungai Indus dan membangun peradaban di sana? Ataukah hanya sebatas teori yang dibuat oleh Max Müller yang mengabdi kepada Inggris mengingat Inggris merupakan penjajah India? Lantas apa alasannya? Makalah ini akan mengulas mengenai kebenaran catatan sejarah tersebut berdasarkan bukti ilmiah (penggalian arkeologi) maupun berdasarkan isi dari kitab Veda itu sendiri.

Tujuan dari penulisan ini adalah memaparkan kekeliruan-kekeliuran yang terdapat dalam Teori Invasi Bangsa oleh Max Müller sehingga layak dikatakan sebagai teori yang tidak memiliki nilai kebenaran serta mengungkapkan tujuan khusus dibalik kemunculan teori tersebut.

TEORI MAX MÜLLER SERTA KONTROVERSI KEBENARANNYA

Teori Invasi Bangsa Arya

Selama bertahun-tahun kita mengetahui bahwa Bangsa Arya datang menginvasi bangsa Dravida. Bangsa Arya memasuki wilayah India sekitar tahun 1500 SM. Mereka datang dari daerah Kaukasus dan menyebar ke arah timur melalui celah Kaibar yaitu sebuah jalan sempit di antara pegunungan Himalaya dan Widnya Kedna. Mereka meninggalkan daerahnya karena telah terjadi desakan bangsa-bangsa. Kedatangannya di India harus menyingkirkan terlebih dulu masyarakat sebelumnya, yakni masyarakat pendukung kebudayaan Mohenjodaro dan Harappa yaitu bangsa Dravida yang berciri-ciri tidak berhidung, bibir tebal, serta kulit hitam (menurut kitab Veda). Dengan kemajuan kebudayaannya, mereka dapat menggeser suku bangsa Dravida ke arah selatan, ke wilayah yang kurang subur.

Veda dibawa oleh bangsa Arya yang memenangkan perang dengan bangsa Dravida yang lebih dahulu menempati lembah sungai Indus. Ini artinya bahwa kitab Veda bukan berasal dari India tapi dibawa dan berkembang di India. Kitab Veda yang dibawa oleh bangsa Arya dibuat setelah kebudayaan Mohenjodaro dan Harappa runtuh, sekitar 1500 SM. Setelah bangsa Arya berhasil mengusir suku bangsa Dravida, ia menetap di lembah sungai Indus, pasca runtuhnya kota Mohenjodaro dan Harappa.

Keterangan di atas merupakan sebuah teori umum yang sudah terlanjur dijadikan sebagai kebenaran oleh hampir seluruh masyarakat di dunia. Implikasinya, kaum akademisi dan masyarakat umum juga memahami ajaran Hindu secara keliru. Teori tersebut mengatakan bahwa bahasa Sansekerta dan kitab-kitab Hindu seperti Rg. Veda tidaklah benar-benar dikodifikasi oleh Maha Rsi Vyasa di wilayah Industan (India) sebagaimana yang tertuang dalam kitab suci Veda itu sendiri, melainkan Rg. Veda dibawa dari daerah Jerman ke India oleh bangsa Arya yang melakukan invasi dan mengalahkan bangsa Dravida.

Hampir semua kalangan menganggap teori ini sebagai teori yang memiliki kebenaran mutlak. Sehingga semua buku-buku sejarah yang diajarkan di bangku-bangku sekolah telah mencekoli semua kalangan dengan teori ini. Salah satunya seperti penjelasan yang terdapat dalam kamus New Oxford Dictionary 2009, menyebutkan bahwa Arya berarti; ³a member of a people speaking an Indo-European language who invaded northern India in the 2nd millennium  bc, displacing the Dravidian and other aboriginal peoples´. Lantas apa yang menyebabkan

munculnya teori tersebut?

Munculnya teori invasi bangsa Arya atas Dravida ini atau lebih dikenal dengan Aryan Invansion Theory pada awalnya dicetuskan oleh Friedrich Maximillian Müller, atau yang lebih dikenal dengan nama Max Müller, seorang filologi kelahiran Jerman yang mengabdikan hidupnya sebagai pengajar di Universitas Oxford, Inggris. Bertepatan pada masa kolonialisme Inggris di India, Friedrich Max Müller dibayar dengan harga tinggi (4 poundsterling per halaman) untuk menerjemahkan kitab-kitab suci Veda ke dalam Bahasa Inggris oleh pemerintah Inggris. Selain Friedrich Max Müller, terdapat beberapa nama peneliti Inggris seperti; Alexander Duff, William Carey, James Mill, William Jones, H.H. Wilson yang membantunya dalam menciptakan teori ini.

Friedrich Max Müller atau lebih dikenal dengan Max Müller awalnya adalah seorang sarjana Sansekerta Oxford University yang lahir di Dessau, 6 Desember 1823 dan wafat 28 Oktober 1900. Ia adalah anak dari seorang sastrawan romantik bernama Wilhelm Müller, yang salah satu puisinya berjudul Die schöne Müllerin danWi nt er rei se, oleh musisi klasik Jerman, Franz Schubert, dijadikan sebuah lagu. Ibu Max Müller, Adelheide Müller adalah saudara perempuan tertua dari seorang kepala pemerintah Anhalt-Dessau, sebuah daerah di Jerman bagian tengah.

Saat berumur 50 tahun, ia merupakan satu dari beberapa akademisi yang mengajar mengenai sejarah India di Inggris dan ia juga merupakan ahli perbandingan agama. Ia menulis berbagai macam buku ilmiah dan esei-esei tentang Indologi yang membahas tentang sejarah India, karya sastra, filsafat dan budayanya. Pada akhirnya, untuk pertama kalinya ia menjadikan Indologi sebagai salah satu cabang disiplin ilmu di Oxford University sehingga masa tuanya ia habiskan menjadi guru besar di universitas ternama tersebut. Bukunya yang berjudul Sacred Books of the East, meruapakan satu dari karya terbesarnya yang membahas menganai seluk-beluk India.

Müller tinggal di India selama belasan tahun. Dalam naskah Veda tersebutlah, Müller menemukan istilah “Arya”. Di dalam Veda terdapat cukup banyak istilah Arya, contohnya dalam  satu Purana yaitu Ramayana Purana yang digunakan untuk menggambarkan sosok Sri Rama

Arya Sarva Samascaiva Sadaiva Priyadarsanah, yang artinya, Arya, seseorang yang bekerja untuk kepentingan umum dan menyayangi semua orang.

Menurut Stephen Knapp (2004)2, seseorang disebut Arya apabila orang tersebut berasal dari keturunan keluarga mulia, lemah lembut prilakunya, berkelakuan baik dan bertindak benar. Dalam Rg. Veda terdapat pernyataan serupa yakni praja arya jyotiragrah (Rg. Veda VII.33.17) yang artinya anak-anak Arya dibimbing menuju cahaya (pencerahan). Dalam hal ini,jyotih atau cahaya atau pencerahan dianalogikan ke dalam pengertian spiritual. Jadi secara garis besar dapat dikatakan bahwa Arya mengarah kepada aturan prilaku atau norma prilaku yang mengarah kepada pencerahan kepada tuhan.

Berbeda dengan pengertian Veda diatas, Müller memberikan penafsiran sendiri terhadap istilah “Arya” ini. Menurutnya, Arya berarti terang atau putih, dalam hal ini “ras berkulit putih” yang pernah menyerang India. Müller juga mengatakan bahwa bangsa Arya berasal dari Jerman yang hidup berpindah pindah. Peradaban sungai Indus disebut Müller sebagai peradaban pra- Arya karena berbagai alasan. Alasan utamanya adalah karena pengaruh pola pikir dan budaya Eropa pada abad 19. Masa-masa itu adalah masa kebangkitan rasa nasionalisme bangsa Jerman. Konon, rezim Nazi yang didirikan Hittler diindikasikan menggunakan semangat dari teori ini untuk melakukan invasi dan pembantaian besar-besaran terhadap orang-orang Yahudi. Mereka juga menggunakan lambang sakral Swastika3 dalam setiap atribut dan benderanya. Setelah menerjemahkan Veda, Müller berspekulasi bahwa bangsa Arya menyerang India sekitar tahun 1500 SM, setelah runtuhnya kota Mohenjadaro dan Harappa.

Namun teori yang mengatakan bahwa bangsa Arya berasal dari Jerman merupakan kesalahan besar. Max Müller memakai teori ini tanpa memiliki bukti arkeologis. Ia hanya meneruskan apa yang telah dikatakan oleh cendikiawan-cendikiawan abad-19 saat itu yang berteori “Arya adalah Proto-Indo-Eropa” seperti H. Chavée (1867), I. Ascoli (1854) B. W. Leist (1888) dan P. van. Bradke (1890).

Mulai tahun 1910-an, teori “Arya adalah Proto-Indo-Eropa” tidak digunakan lagi sejak ditemukannya bukti arkelologis oleh seorang ahli arkeologi Jerman bernama Otto Schrader tahun 1918. Dalam kesimpulannya, ia mengatakan bahwa bangsa Arya merupakan bangsa yang berasal dari daerah Iran sekarang (Indo-Iran). Michael Witzel, dalam artikelnya berkata bahwa “Semua penggunaan kata Arya sebagai Indo-Eropa dan segala teori abad-19 dan permulaan abad-20 harus dihindari”.

Tidak Pernah Ada Serangan Bangsa Arya

Bila dicermati, teori serangan bangsa Arya tidak memiliki dasar ilmiah yang kuat. Sir John Marshall menawarkan bukti-bukti bahwa India mengikuti peradaban Veda jauh sebelum tibanya bangsa Arya. Ia menunjukan bahwa India telah memiliki peradaban yang maju bahkan sejak tahun 3500 SM, bahkan mungkin lebih awal.

Menurutnya, kerangka manusia yang ditemukan di Harappa dengan umur 5000 tahun yang lalu menunjukan persamaan dasar dengan ras-ras yang ada di Punjab dan Gujarat dewasa ini. Hal ini membuktikan bahwa tidak pernah ada penyerangan suku bangsa luar seperti apa yang yang telah digembor-gemborkan oleh Max Müller dengan teorinya itu.

Selain itu, jika mengacu pada kosa kata bahasa Sansekerta yang benar, kata ³Arya´ berarti orang yang terpelajar atau terhormat. Sama sekali tidak ada indikasi yang menyatakan bahwa istilah Arya mengacu kepada suatu ras atau bangsa tertentu. Dalam Catur Veda sendiri istilah Arya hanya disebutkan sebanyak 60 kali dan semuanya mengacu pada istilah orang yang terpelajar dan terhormat -seperti yang tertulis dalam Rg. Veda VII.33.17-. Veda sendiri menyatakan dengan jelas bahwa Veda dikodifikasi di daerah Aryavarta atau Bharatavarsha yang dikatakan sebagai daerah yang memiliki tujuh aliran sungai. Veda tidak pernah menyinggung bahwa Veda dikodifikasi di daerah lain. Colin Renfrew4, seorang arkeolog Inggris dengan tegas mengatakan, tidak satupun mantra Rg. Veda menggambarkan bahwa Veda membicarakan suatu penyerangan suatu bangsa ke daerah tertentu. Tidak satupun hal yang menguatkan bahwa Arya adalah pendatang.

Penggalian arkelogi yang sistematis dilakukan pertama kali pada tahun 1921 untuk menggali peninggalan kota Harappa di sekitar sungai Ravi (Daya Ram Sahni, Rakhaldas Banerjee, Barat Laut India). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebudayaan yang berkembang di sana setidaknya sudah berlangsung sejak 4000-2500 SM. Hasil penggalian ini juga menunjukkan bahwa sama sekali tidak ada bukti jejak peninggalan bangsa Arya dalam

kebudayaan Harappa, yang artinya sama sekali tidak ada bukti bahwa bangsa Arya datang

mengusir bangsa Dravida dari kota Harappa.

Peninggalan arkeologi yang jauh lebih tua dan paling sering disebutkan dalam literatur Veda akhirnya ditemukan di sepanjang aliran sungai Sarasvati yang saat ini sudah mengering dan hanya dapat diamati dari luar angkasa melalui satelit. Sebab dari mengeringnya sungai Sarasvati adalah karena habisnya gletser yang menjadi pasokan utama aliran sungai Sarasvati yang terletak di pegunungan Himalaya. Bukti-bukti arkeologis memperhitungkan bahwa sungai Sarasvati sudah mengering sekitar 2.200-10.000 tahun SM akibat terjadinya perubahan iklim yang mengarah pada pemanasan permukaan Bumi.

Beberapa mantram-mantram Rg. Veda yang mengagung-angungkan keberadaan sungai Sarasvati ini adalah antara lain pada mantram VI.61.13, VI.61.8 dan VII.95.1. Setidaknya dari keterkaitan dengan keberadaan sungai Sarasvati dan pujian-pujian mantra-mantra Rg. Veda ini sudah merupakan bukti yang sangat kuat untuk membantah anggapan yang menyatakan Rg. Veda dibawa dari daerah Eropa oleh bangsa nomaden Indo-Jerman yang disebut-sebut sebagai bangsa Arya. Ditambah lagi dengan adanya sloka Mahabharata yang menyatakan bahwa sungai Sarasvati menghilang di suatu gurun, sehingga logikanya jaman kodifikasi Veda juga berlangsung pada tahun-tahun mengeringnya sungai Sarasvati ini, jauh sebelum bangsa Arya menginvasi bangsa Dravida.

Kenoyer, seorang sejarawan juga menguatkan pernyataan bahwa Rg. Veda benar-benar ditulis di sekitar sungai Sarasvati di wilayah India. Ia mengatakan bahwa di timur, sungai Sarasvati purba mengalir secara paralel ke sungai Indus. Saat berakhirnya peradaban lembah sungai Indus, sungai Sarasvati sudah kering secara total. Banyak kisah Rg. Veda mengambil tempat di daerah sungai suci Sarasvati ini

sebagian masyarakat Hindu tidak bisa menerima pernyataan Rg. Veda yang menyatakan dirinya diajarkan dan disebarkan melalui tradisi lisan yaitu proses mendengar (sruti) dan mengingat (smrti) berdasarkan jalurparampa ra secara bersamaan dengan terciptanya alam semesta material. Rg. Veda sudah dengan sangat jelas menyatakan bahwa ia dikodifikasi pada permulaan Kali-Yuga sekitar 6000 tahun yang lalu inkarnasi Tuhan, Sri Narayana dibidang sastra yaitu Krishna Dvaipayana Vyasa agar bisa dipelajari dan dimengerti oleh orang-orang jaman Kali. Namun mengapa mereka yang merupakan penganut Veda begitu µbodoh¶ sehingga mengingkari pernyataan Veda ini? Bhagavata Purana 1.4.17-25 dengan jelas sudah menyatakan hal ini dengan menyebutkan;

³SangRishi mulia yang berpengetahuan penuh, dengan penglihatan rohaninya bisa

melihat merosotnya segala sesuatu yang material karena pengaruh buruk Kali-Yuga «« Beliau juga melihat orang-orang yang tidak percaya (pada Veda) jadi pendek usia dan mereka tidak penyabar karena kurang memiliki sifat-sifat bajik «« Untuk menyederhanakan proses (belajar Veda), beliau membagi Veda yang satu (Yajur Veda) itu menjadi 4 bagian untuk diajarkan diantara manusia «. Demikianlah,Rishi Paila menjadi sarjanaRg-Veda,Rishi Jaimini menjadi sarjana Sama-Veda,Rishi Vaisampayana menjadi akhli Yajur-Veda dan Sumantu Muni dipercayakan mengajar Atharva-Veda. Mereka mengajarkan bagian-bagian Veda itu kepada para muridnya masing-masing «.. Kemudian karena kasihan (kepada orang-orang kurang cerdas), Vyasa menyusun Mahabharata agar para wanita, sudra dan dvija-bandhu bisa mencapai tujuan hidup tertinggi´.

Sebenarnya pada masa kolonial Inggris, konversi agama masyarakat India tidak hanya dilakukan oleh misionaris Kristen, melainkan juga dilakukan oleh orang-orang Islam. Namun berbeda dengan kaum Indologis, para penyebar agama Islam yang menjadikan Hindu sebagai target konversi lebih condong pada tindakan destruktif. Pada waktu penyerangan bangsa Mogul ke India, mereka banyak menghancurkan pustaka-pustaka Suci Veda, tempat-tempat suci dan membunuh para pemuka agama, tetapi tidak melakukan pengubahan dan penyebaran pustaka Rg. Veda sebagaimana yang dilakukan oleh Max Müller. Sehingga usaha penghancuran yang mereka lakukan hanya bersifat sesaat dan tidak menjadi bom waktu dalam perkembangan Hindu di dunia.

Sampai sekarang, lembaga-lembaga pendidikan formal Hindu, terutama sekali di India menjadikan Veda terjemahan Max Müller dan teori-teorinya tersebut sebagai acuan utama dalam menelurkan karya-karya tulis dan menelurkan intelektual-intelektual Hindu. Terjangkitnya para intelektual Hindu oleh virus ciptaan Indologis tersebut pada akhirnya menular ke masyarakat Hindu lainnya yang akan menggerogoti dan melemahkan Hindu dari dalam. Ironisnya, ada anggapan bahwa Max Müller malah diagung-agungkan sebagai salah satu Sad Guru yang dihormati yang dianggap berjasa sebagai pembaharu Hindu.

Meskipun kekeliruan teori invasi hasil konspirasi ini sudah diakui dan dipublikasikan oleh BBC London yang dimuat 30 September 2005. Mereka dengan jelas menyatakan bahwa teori kontroversial hasil ciptaan Max Müller pada tahun 1848, hanyalah berdasarkan pada pembenaran linguistik. Adanya dua jenis warna kulit bangsa India yang sudah terlanjur dianggap benar yang telah berhasil mendistorsikan sejarah Hindu akhirnya mendapat sanggahan dan tumbang setelah 120 tahun.

Namun sampai sekarang sebagian besar buku-buku pelajaran terutama sekali di Indonesia maupun ensiklopedi8 yang terdapat dalam situs-situs internet mengenai sejarah Hindu masih menuliskan teori ini sebagai sebuah kebenaran. Mereka lebih mempercayai uraian Veda yang disampaikan oleh orang-orang Barat yang berlindung dibalik kata ³ilmiah´ dari pada mempercayai sejarah Veda menurut Veda itu sendiri.

Melihat bantahan ilmiah maupun berdasarkan teks kitab Veda sendiri mengenai teori Max Müller ini, penulis dapat mengatakan bahwa teori tersebut sudah runtuh dan tidak bisa dipertangungjawabkan lagi kebenarannya. Sehingga perlu ada koreksi besar-besaran agar dapat mengganti teori tersebut dengan teori yang sudah diakui kebenarannya secara ilmiah -yang telah dipaparkan dalam makalah ini-. Koreksi tersebut berupa revisi teks sejarah yang tertuang dalam buku-buku ataupun media lainnya yang telah tersebar selama ini.

Hal lain yang bisa dilakukan ialah, pemerintah India, selaku yang memiliki subjek penelitian tentang masalah ini, mengumumkan kepada seluruh masyarakat dunia bahwa teori yang selama ini tersebar mengenai penyerangan bangsa Arya ke India merupakan salah besar. Hal ini perlu dilakukan agar demokrasi dalam menjunjung tinggi kebenaran dalam bidang pendidikan menjadi kewajiban yang harus dilakuakan bagi seluruh negara di dunia. Sehingga sejarah sebagai warisan budaya suatu negara dan juga dunia dapat terus berjalan turun-temurun secara benar.